|
|
| Pemerintah Berencana Naikkan Harga BBM |
|
Jakarta, PAB-Online Penghentian ekspor minyak Iran kepada Prancis dan Inggris berimbas pada peningkatan harga minyak dunia. Pemerintah berharap bisa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Dengan harga minyak yang melampaui US$115 per barel, pemerintah melihat menaikkan harga BBM subsidi layak dilakukan. "Saya mengharapkan Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) dengan Komisi VII (DPR) membicarakan hal ini dengan lebih baik karena dengan kondisi minyak sudah di atas US$115 adalah sangat tidak bijak kalau kita dilarang menaikkan," ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Selasa (21/2). Menurut Hatta, penaikan harga BBM subsidi merupakan salah satu pilihan yang baik dan dipertimbangkan pemerintah. Namun begitu opsi lain juga perlu diperhitungkan sehingga tidak serta-merta langsung menaikkan harga. "Walaupun misalkan boleh saja menaikkan, bukan berarti otomatis kita menaikkan. Tapi harus ada banyak opsi yang bisa kita lakukan," katanya. Dalam kesempatan terpisah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana menyampaikan bahwa pilihan pembatasan dan penaikan harga BBM subsidi harus sama-sama dilakukan. Ia menjelaskan keduanya merupakan opsi yang saling terkait. "Pilihan itu harus dikaji secara cermat karena saat ini asumsi makro sudah meleset. Harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price) sudah di atas US$110, padahal asumsinya US$90,” ujarnya. Sementara opsi konversi BBM subsidi menjadi bahan bakar gas (BBG) merupakan rencana jangka menengah dan panjang yang harus dilakukan. Armida melihat negara-negara lainnya sudah mulai melakukan konversi untuk transportasi untuk mengganti BBM yang harganya semakin tidak terkendali. Pemerintah juga pesimistis terhadap asumsi lifting dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 yang sebesar 950 ribu barel per hari. Hatta menyebutkan bahwa pemerintah harus realistis dengan keadaan lifting minyak Indonesia yang mulai menurun. "Dalam APBN Perubahan 2012 lifting akan dikoreksi. Harus kita lihat lagi dan coba realistis lagi lah," ujarnya. Asumsi-asumsi pada APBN 2012 akan diubah jika kondisi global tidak memungkinkan. ICP dan lifting merupakan asumsi yang sudah tidak relevan. "Makanya kita harus melakukan sesuatu apalagi perubahannya sekarang sudah jauh, mencapai 10%. Kalau tidak melakukan perubahan, ini akan menimbulkan postur yang tidak sesuai pada APBN," pungkasnya.(MI/Idt/IP) |
